Sebuah pengalaman besar dari
sederet kejadian kecil yang terjadi akhir-akhir ini dalam sebuah komunitasku
membuat aku tergelitik untuk menyampaikan sesosok buah pikirku yang lahir
begitu saja tanpa kompromi. Dan tentunya dengan persetujuan Bung Timo untuk memuatnya
dalam blog tenarnya, aku –sang pujangga gagal- mengucapkan secuil terima
kasih.
Aku adalah hamba Tuhan yang
idealis, aku ingin segalanya berjalan sesuai dengan pandanganku, prinsip dan
hasil terbaik versiku apapun dan bagaimanapun caranya..Totalitas adalah
segalanya bagiku..
Suatu saat Tuhan memintaku
mempersiapkan sebuah proyek untukNya, proyek yang sangat besar dimana aku
diberi kekuasaan untuk membangunnya..Aku sangat bersemangat, aku sangat
berambisi, aku hanya ingin yang terbaik untukNya...aku adalah hamba Tuhan yang
terbaik dan aku tak pernah gagal...
Langkah demi langkah aku lalui
dengan sempurna, tanpa cacat dan cela..semua dalam kendali pikirku…Sampai suatu
saat tiba saat dimana aku membutuhkan sedikit bantuan dariNya…hanya
sedikit…lalu bertemulah aku dengan Tuhan Allah..
“Tuhan…sudah setengah jalan aku
membangun..dan semua berjalan dengan sempurna…proyekMu akan berhasil dan sukses
luar biasa karena aku…HambaMu yang hina ini mencurahkan semua jiwa raganya
hanya untukMu Tuhan…”
Lalu Tuhan menjawab…
“Hai hambaku..Aku sudah melihat
hasil kerjamu..bahkan Aku…Tuhan Allahmu sang Maha Tahu telah melihat hasil
proyek ini kelak…Tapi ketahuilah Hamba, bahwa proyek yang kaukerjakan ini sama
sekali tak bernilai dimataKu..”
Aku sangat terkejut….dan bertanya kepada Tuhan..
”A..apa maksudMu Tuhan...? A..aku sudah bekerja sekuat tenaga...bahkan Engkau bisa melihat hasil
kerjaku kelak...Dan semua itu sungguh hanya untukMu Tuhan..”
Tuhan berkata..
”HambaKu...Aku bisa melihat semua usaha dan kerja kerasmu..tapi lebih dari
itu..aku melihat bara ambisi dan nafsu kekuasaan dalam diriMu..sesuatu yang tak
berkenan bagiKu...Karena sesungguhnya dengan itu proyek ini bukan lagi sebagai
persembahanmu padaKu.. Coba lihatlah bagaimana hubunganmu dengan para pekerjamu..”
Lalu Tuhan Allah memberikan sebuah visi yang menunjukkan keadaan para
pekerjaku...bagaimana mereka merasa sangat lelah, marah dan tidak bahagia
bekerja denganku...Aku sudah menyadari hal tersebut..tapi mau apalagi..Inilah
caraku untuk mencapai hasil terbaik pikirku...Lalu visi itu berlanjut..dalamnya
aku melihat para pekerjaku berontak, mencaci-makiku dan kemudian salah seorang
menusukku dari belakang dengan sebilah pisau dan membunuhku...Aku hanya bisa
tercengang dan menangis....
”Lalu..apa yang bisa kulakukan sekarang Tuhan..?”
Tuhan berkata..
”Perbaikilah hubunganmu dengan sesamamu...juga dengan dirimu sendiri,
lihatlah dirimu yang kurus, matamu yang merah..kau telah bekerja terlalu keras
hingga lupa akan nilai-nilai yang telah Kuajarkan ...bahkan sudah lama sejak
terakhir kau mengucap syukur atas makanan yang telah Kuberikan kepadamu..Berbuatlah
seperti yang telah KuAjarkan..kenakanlah nilai-nilai itu dalam diriMu dan
ketahuilah hambaKu..engkau akan menghasilkan sesuatu yang sangat indah bagiKu..”
Aku hanya bisa menangis dalam pelukan Tuhan...menangis dan terus menangis
semakin keras...semakin erat kupeluk Tuhan...
sampai akhirnya aku terbangun dalam mimpiku..
Aku duduk terdiam, berusaha menangkap apa maksud yang tersirat dalam
mimpiku..dengan tanpa sadar mataku tertuju pada sebuah Alkitab usang pada
tumpukan di meja belajarku yang tak terurus...Membuka tanpa tujuan berharap
menemukan jawaban atas mimpiku dan sekonyong-konyong..
Karena itu , sebagai
orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas
kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
Kolose 3:12
Sebuah potret kehidupan dimana
sebuah totalitas dipertanyakan.. Sebuah ironi ketika profesionalitas berkarya
diadu dengan bentuk pelayanan tulus kepada-Nya…
Mampukah aku memahaminya…?
Sungguh mampukah aku berkarya
sesuai dengan kehendakNya…bukan kehendak aku….walaupun semua itu atas namaNya ?
Sanggupkah aku menyentuh
nilai-nilai Kristiani diluar ambisi pribadi, kesempurnaan fana…?
Menelan kecerdasan Rohani
disamping kecerdasan Intelektual ?
Melahap kedamaian hati disamping
logika berpikir ?
Aku...aku…aku memilih TIDAK untuk
semua pertanyaan di atas…
Aku menutup Alkitabku...Memejamkan mataku..dan
kembali tidur untuk melupakan mimpi
omong kosongku tadi...
Recent Comments